Global Music Rights (GMR) dan layanan musik Music Choice akhirnya menyelesaikan sengketa hak cipta yang melibatkan 95 lagu dari katalog GMR.
Perkara tersebut resmi dihentikan setelah kedua perusahaan mencapai kesepakatan. Dokumen yang diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Central District of California pada 7 Agustus 2026 menyebut seluruh gugatan dihentikan with prejudice, yang berarti klaim yang sama tidak dapat diajukan kembali dalam perkara baru.
Namun, nilai kesepakatan antara GMR dan Music Choice tidak dipublikasikan. Dokumen tersebut juga tidak menjelaskan apakah penyelesaian sengketa diikuti dengan perjanjian lisensi baru antara kedua perusahaan.
Berawal dari Lisensi yang Berakhir
Perselisihan bermula setelah perjanjian lisensi antara Global Music Rights dan Music Choice berakhir pada 31 Desember 2025.
GMR sebelumnya memberikan izin kepada Music Choice untuk menampilkan secara publik komposisi yang berada di bawah pengelolaannya. Menurut gugatan GMR, setelah kontrak tersebut berakhir, seluruh hak penggunaan katalog juga ikut berhenti.
GMR mengklaim telah menawarkan sejumlah kesempatan kepada Music Choice untuk memperpanjang lisensi sebelum masa kontrak habis. Namun, Music Choice disebut memilih tidak memperpanjang kesepakatan tersebut.
Masalah muncul ketika GMR menuding Music Choice masih menggunakan sejumlah karya dalam katalognya mulai Januari 2026.
Pada Juni 2026, GMR kemudian membawa persoalan tersebut ke pengadilan dan mencantumkan sedikitnya 95 komposisi yang disebut telah diputar tanpa izin.
Ada Lagu Bruce Springsteen hingga Billie Eilish
Daftar karya dalam gugatan tersebut berisi sejumlah lagu besar dari musisi dan penulis lagu terkenal.
Beberapa di antaranya adalah “Born to Run”, “Dancing in the Dark”, “Glory Days”, “I'm on Fire”, dan “Streets of Philadelphia” yang ditulis Bruce Springsteen.
Katalog yang dipermasalahkan juga mencakup sejumlah karya Billie Eilish dan Finneas seperti “Bad Guy”, “Bury a Friend”, “Happier Than Ever”, serta lagu soundtrack Barbie, “What Was I Made For?”.
Nama lain yang muncul dalam daftar tersebut antara lain Pearl Jam, Bill Withers, Eagles, Jimmy Buffett, John Mayer, Smokey Robinson, The Who, dan OneRepublic.
Global Music Rights sendiri merupakan salah satu organisasi pengelola hak pertunjukan atau performance rights organization (PRO) di Amerika Serikat. Organisasi ini mewakili lebih dari 175 penulis lagu beserta penerbit musik mereka.
Gugatan Berpotensi Mencapai US$14,25 Juta
Dalam gugatan awalnya, GMR meminta ganti rugi maksimum sebesar US$150.000 untuk setiap komposisi apabila pelanggaran dinilai dilakukan secara sengaja.
Jika angka maksimum tersebut diterapkan terhadap seluruh 95 karya yang disebut dalam perkara, potensi tuntutannya mencapai sekitar US$14,25 juta.
Selain kompensasi finansial, GMR juga meminta pengadilan melarang Music Choice menggunakan karya-karya tersebut tanpa izin.
Angka US$14,25 juta itu penting dibedakan dari nilai penyelesaian perkara. Jumlah tersebut hanyalah potensi maksimum tuntutan dalam gugatan, bukan jumlah uang yang dipastikan dibayar Music Choice kepada GMR.
Hingga perkara dihentikan, kedua pihak tidak mengungkap nilai finansial dari kesepakatan mereka.
Sengketa Selesai Sebelum Masuk Lebih Jauh ke Pengadilan
Penyelesaian ini berlangsung relatif cepat.
GMR mengajukan gugatan pada 8 Juni 2026. Dalam proses selanjutnya, tenggat Music Choice untuk memberikan tanggapan sempat diperpanjang dua kali, dengan tenggat terakhir jatuh pada 10 Agustus.
Namun, tiga hari sebelum tenggat tersebut, kedua pihak mengajukan dokumen bersama untuk menghentikan perkara.
Masing-masing pihak juga akan menanggung sendiri biaya pengacara dan pengeluaran hukum mereka.
Dengan demikian, sengketa berakhir sebelum pokok perkara diuji lebih jauh di pengadilan.
Lisensi Tetap Jadi Fondasi Bisnis Musik
Kasus GMR dan Music Choice kembali menunjukkan bahwa distribusi dan pemutaran musik bukan hanya soal tersedianya sebuah lagu di suatu layanan.
Di balik setiap katalog terdapat hak penggunaan yang harus memiliki dasar lisensi yang masih berlaku.
Bagi platform, radio, layanan streaming, hingga penyedia musik untuk ruang komersial, berakhirnya sebuah kontrak lisensi dapat secara langsung mengubah karya apa saja yang secara legal boleh mereka gunakan.
Di sisi lain, bagi penulis lagu dan penerbit, penegakan lisensi menjadi bagian penting dalam memastikan penggunaan karya menghasilkan kompensasi kepada pemegang hak.
Detail kesepakatan GMR dan Music Choice memang tetap tertutup. Namun, berakhirnya kasus ini memperlihatkan bagaimana persoalan lisensi dapat dengan cepat berubah dari negosiasi bisnis menjadi sengketa bernilai jutaan dolar ketika penggunaan katalog terus berjalan setelah izin berakhir.
3 Poin Kunci Laporan Ini:
- Global Music Rights menggugat Music Choice pada Juni 2026 setelah lisensi mereka berakhir pada 31 Desember 2025.
- Gugatan mencakup 95 komposisi dan menuntut potensi ganti rugi maksimum sekitar US$14,25 juta.
- Kedua pihak kini mencapai kesepakatan dan perkara dihentikan secara permanen, tetapi detail finansial serta kemungkinan lisensi baru tidak diungkap.




