Tuesday, 6 October 2026
Kembali ke Beranda

Ripley, Serial Netflix Hitam-Putih tentang Kebohongan dan Obsesi

Dibintangi Andrew Scott, Ripley mengubah Italia yang indah menjadi panggung dingin bagi penipuan, kecemburuan, dan ambisi seorang pria yang ingin mencuri kehidupan orang lain.

Arya Permana

Arya Permana

Kritikus Film

10 menit baca
30
Ripley, Serial Netflix Hitam-Putih tentang Kebohongan dan Obsesi

Andrew Scott sebagai Tom Ripley dalam serial Netflix Ripley

Italia biasanya hadir di layar sebagai tempat pelarian.

Pantai Amalfi, bangunan tua, jalan sempit, dan kafe yang tenang kerap digunakan untuk menjual gambaran tentang hidup yang lebih bebas. Namun, dalam Ripley, seluruh keindahan itu terasa dingin dan mengancam.

Di balik tangga batu, hotel mewah, gereja, serta apartemen yang sunyi, Tom Ripley perlahan membangun kehidupan baru dari kebohongan.

Serial terbatas Netflix ini mengikuti seorang penipu kecil dari New York yang mendapat pekerjaan tidak biasa. Ia diminta pergi ke Italia untuk membujuk Dickie Greenleaf, anak seorang pengusaha kaya, agar kembali ke Amerika Serikat.

Tom seharusnya hanya menyampaikan pesan.

Namun, setelah melihat kehidupan Dickie yang dipenuhi uang, kebebasan, dan kemewahan, ia mulai menginginkan sesuatu yang lebih besar.

Tom tidak hanya ingin berada di dekat kehidupan tersebut. Ia ingin mengambilnya.

Seorang Penipu Memasuki Dunia Orang Kaya

Pada awal cerita, Tom Ripley hidup dari penipuan kecil di New York pada awal 1960-an.

Ia tidak memiliki pekerjaan tetap, status sosial, atau masa depan yang jelas. Kesempatan untuk pergi ke Italia datang ketika seorang pengusaha kaya salah mengira Tom sebagai teman lama putranya.

Tom tidak memperbaiki kesalahpahaman itu.

Ia menerima uang perjalanan, mengenakan pakaian yang lebih pantas, lalu berangkat untuk menemui Dickie Greenleaf.

Dickie tinggal di sebuah kota pesisir bersama kekasihnya, Marge Sherwood. Hidup mereka terlihat ringan. Hari-hari diisi dengan berenang, melukis, minum, serta menikmati uang keluarga tanpa beban berarti.

Bagi Tom, kehidupan Dickie seperti dunia yang selama ini hanya dapat ia lihat dari luar.

Kekaguman tersebut perlahan berubah menjadi obsesi.

Ia mulai meniru cara bicara Dickie, mempelajari kebiasaannya, dan mencari celah agar dapat terus berada di dekatnya.

Andrew Scott Membuat Tom Ripley Sulit Dibaca

Andrew Scott memainkan Tom Ripley sebagai sosok yang tidak mudah ditebak.

Wajahnya sering terlihat tenang, tetapi ketenangan itu tidak pernah benar-benar memberi rasa aman. Tatapan kecil, jeda sebelum menjawab, serta senyum yang sedikit terlambat membuat setiap interaksi terasa mencurigakan.

Tom mampu terlihat gugup dan percaya diri dalam waktu berdekatan.

Ia dapat berperan sebagai teman yang membutuhkan bantuan, pegawai yang sopan, atau pria berkelas yang memahami seni. Identitasnya berubah mengikuti orang yang sedang berada di hadapannya.

Kemampuan tersebut menjadi senjata utama Tom.

Ia tidak selalu menjadi orang paling menarik di dalam ruangan. Namun, ia memperhatikan bagaimana orang lain berbicara, berpakaian, serta memperlakukan satu sama lain.

Informasi itu kemudian digunakan untuk membentuk versi dirinya yang paling menguntungkan.

Akting Scott membuat penonton terus mengawasi Tom tanpa pernah sepenuhnya memahami isi pikirannya.

Hitam-Putih yang Bukan Sekadar Gaya

Seluruh episode Ripley ditampilkan dalam visual hitam-putih.

Keputusan ini langsung membedakannya dari gambaran Italia yang biasanya dipenuhi warna hangat. Laut tidak terlihat biru, matahari tidak terasa keemasan, dan kota-kota tua tidak hadir seperti kartu pos wisata.

Italia dalam Ripley dipenuhi bayangan, garis keras, permukaan batu, serta ruangan yang seolah menyimpan rahasia.

Visual tersebut memperkuat dunia moral Tom.

Hampir tidak ada ruang yang terasa benar-benar terang. Bahkan pada siang hari, kegelapan tetap muncul di sudut lorong, tangga, pintu, serta wajah para karakter.

Komposisi gambar juga sering membuat manusia terlihat kecil dibandingkan bangunan di sekelilingnya.

Tangga menjadi panjang dan melelahkan. Koridor terasa seperti jebakan. Patung dan lukisan seolah mengawasi setiap kebohongan yang dilakukan Tom.

Hitam-putih dalam serial ini bukan hiasan nostalgia. Ia menjadi bahasa visual untuk menggambarkan identitas yang tidak stabil dan kehidupan yang dibangun dari kepalsuan.

Italia sebagai Labirin

Lokasi dalam Ripley memiliki peran lebih besar daripada sekadar latar.

Tom terus berpindah dari kota pesisir menuju Roma, San Remo, Venesia, dan berbagai tempat lain. Setiap kota menawarkan kesempatan baru untuk menyembunyikan jejak sekaligus menciptakan identitas berbeda.

Namun, perpindahan itu tidak pernah membuat Tom benar-benar bebas.

Jalan kecil, stasiun, hotel, dan apartemen justru membentuk labirin yang semakin rumit. Setiap kebohongan memerlukan kebohongan lain. Setiap penyamaran meninggalkan detail yang dapat membongkar seluruh rencananya.

Italia yang luas perlahan terasa sempit.

Tom harus mengingat nama yang sedang digunakannya, tanda tangan yang perlu ditiru, pakaian yang dikenakan, serta siapa yang boleh melihatnya di tempat tertentu.

Ketegangan tidak hanya lahir dari kemungkinan ia ditangkap.

Ketegangan muncul karena penonton mengetahui bahwa satu kesalahan kecil dapat membuat semua identitasnya runtuh.

Dickie Menjadi Simbol Kehidupan yang Diinginkan Tom

Johnny Flynn memerankan Dickie Greenleaf sebagai pria yang hidup dari hak istimewa tanpa terlalu memikirkannya.

Ia memiliki uang, rumah, pergaulan, dan kebebasan untuk mengejar minat apa pun. Dickie dapat melukis meskipun bakatnya diragukan. Ia dapat tinggal di Italia tanpa pekerjaan jelas karena keluarganya terus menyediakan biaya.

Bagi Tom, Dickie bukan hanya seseorang.

Ia adalah simbol dari kehidupan yang terasa tidak mungkin dimiliki.

Tom tertarik pada pakaian, suara, barang, dan status Dickie. Namun, ketertarikan itu bercampur dengan rasa iri. Ia mengagumi Dickie sekaligus membenci betapa mudahnya pria tersebut memperoleh semua yang tidak pernah dimilikinya.

Hubungan mereka tidak dapat dijelaskan hanya sebagai persahabatan.

Ada kebutuhan untuk diterima, keinginan untuk memiliki, serta dorongan untuk menggantikan posisi orang lain.

Ketika Dickie mulai menjaga jarak, dunia yang baru saja ditemukan Tom terancam menghilang.

Dari situlah kebohongan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.

Marge Menjadi Orang yang Tidak Mudah Diyakinkan

Dakota Fanning berperan sebagai Marge Sherwood, kekasih Dickie yang sejak awal merasa ada sesuatu yang tidak benar tentang Tom.

Berbeda dari orang lain yang menerima penjelasan Tom dengan mudah, Marge memperhatikan perubahan kecil.

Ia melihat bagaimana Tom berusaha memasuki hubungan mereka. Ia menyadari ketertarikannya terhadap kehidupan Dickie. Ketika keadaan mulai berubah, Marge tidak begitu saja menerima cerita yang diberikan kepadanya.

Kehadiran Marge memberi tekanan tersendiri.

Tom mungkin dapat mengelabui orang melalui dokumen, penampilan, atau cerita yang disusun rapi. Namun, intuisi Marge menjadi sesuatu yang lebih sulit dikendalikan.

Ia tidak selalu memiliki bukti.

Namun, ia mengetahui bahwa ada bagian dari Tom yang tidak pernah benar-benar sesuai dengan peran yang sedang dimainkannya.

Konflik mereka menunjukkan bahwa kebohongan tidak selalu dibongkar melalui penyelidikan besar. Terkadang, kebohongan mulai runtuh karena seseorang terus memperhatikan detail yang dianggap remeh oleh orang lain.

Tempo Lambat yang Membuat Kebohongan Terasa Berat

Ripley bergerak dengan tempo yang sabar.

Serial ini tidak terburu-buru menuju tindak kriminal berikutnya. Penonton diajak melihat Tom menaiki tangga, memindahkan benda, membersihkan ruangan, membeli tiket, atau menyusun alibi.

Kegiatan yang terlihat sederhana dapat berlangsung cukup lama.

Namun, kelambatan tersebut justru menjadi sumber ketegangan.

Setiap pekerjaan kecil mengingatkan bahwa kejahatan tidak selesai ketika tindakan utamanya dilakukan. Ada tubuh yang harus dipindahkan, jejak yang harus dibersihkan, barang yang perlu disembunyikan, serta pertanyaan yang harus dijawab.

Tom mungkin terlihat tenang, tetapi dunia fisik terus melawannya.

Benda terlalu berat. Tangga terlalu panjang. Cahaya dapat memperlihatkan noda. Saksi dapat muncul pada waktu yang salah.

Serial ini tidak membuat kejahatan terlihat mudah atau glamor.

Kebohongan Tom membutuhkan kerja tanpa akhir.

Humor Gelap di Tengah Kejahatan

Meskipun atmosfernya serius, Ripley menyimpan humor gelap.

Humor tersebut sering lahir dari kegagalan kecil Tom saat berusaha mengendalikan situasi. Seekor kucing, petugas hotel, koper, lift, atau percakapan administratif dapat berubah menjadi ancaman yang tidak diperkirakan.

Ada sesuatu yang ironis ketika seorang penipu yang merasa lebih pintar daripada orang lain justru harus berhadapan dengan hal-hal biasa yang tidak dapat ia atur.

Serial ini tidak meminta penonton menertawakan kekerasan.

Humornya muncul dari perbedaan antara gambaran elegan yang ingin dibangun Tom dan kenyataan berantakan yang harus ia hadapi.

Ia ingin terlihat seperti pria berkelas yang bergerak dengan mudah di dunia orang kaya. Kenyataannya, ia terus bekerja keras untuk menjaga kebohongan yang semakin rapuh.

Seni, Agama, dan Bayangan Kematian

Lukisan, patung, gereja, dan karya seni hadir berulang kali sepanjang serial.

Tom mempelajari seni bukan hanya karena tertarik, tetapi karena pengetahuan tersebut dapat membantunya terlihat cocok dengan lingkungan sosial yang ingin dimasuki.

Namun, karya seni dalam Ripley juga membawa lapisan simbolis.

Gambaran mengenai pengkhianatan, dosa, kematian, dan penghakiman muncul di sekitar Tom. Ia dapat mengabaikan manusia, tetapi bangunan dan gambar yang mengelilinginya seolah terus mengingatkan bahwa setiap tindakan meninggalkan jejak.

Serial ini tidak menjadikan simbol keagamaan sebagai penjelasan moral sederhana.

Sebaliknya, elemen tersebut menciptakan perasaan bahwa Tom terus berjalan di bawah tatapan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

Ia mungkin dapat mengelabui polisi atau teman-temannya.

Namun, gambar-gambar di dinding tetap diam dan mengawasinya.

Tom Ripley dan Keinginan Menjadi Orang Lain

Di balik semua penipuan dan kejahatan, Ripley adalah cerita tentang identitas.

Tom tidak terlihat nyaman menjadi dirinya sendiri.

Ia terus mengamati kehidupan orang lain, lalu mengambil bagian yang menurutnya dapat digunakan. Pakaian, suara, tanda tangan, kebiasaan, bahkan nama menjadi material untuk membangun identitas baru.

Namun, serial ini tidak memberikan jawaban pasti mengenai siapa Tom sebenarnya.

Apakah ia hanya menginginkan uang? Apakah ia menginginkan status sosial? Apakah ia ingin dicintai Dickie, menjadi seperti Dickie, atau sepenuhnya menggantikan Dickie?

Ketidakjelasan tersebut membuat karakter Tom terus menarik.

Ia adalah ruang kosong yang berusaha diisi menggunakan kehidupan orang lain.

Setiap keberhasilan memberinya kepuasan sementara. Setelah itu, ia kembali membutuhkan identitas baru untuk mempertahankan dirinya.

Adaptasi yang Memberi Cerita Lebih Banyak Ruang

Kisah Tom Ripley sebelumnya telah beberapa kali diadaptasi ke layar.

Versi serial memberikan ruang lebih panjang untuk memperlihatkan proses di balik transformasi Tom. Penonton tidak hanya melihat titik-titik penting dalam cerita, tetapi juga pekerjaan kecil yang menghubungkan setiap kebohongan.

Delapan episode memungkinkan perubahan identitas Tom terjadi secara perlahan.

Hubungannya dengan Dickie dan Marge dibangun lebih lama. Penyelidikan kepolisian berkembang bertahap. Kota-kota yang dikunjunginya juga mendapat ruang untuk membentuk atmosfer.

Pendekatan ini membuat Ripley terasa kurang seperti thriller yang mengejar kejutan dan lebih menyerupai studi karakter.

Pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah Tom akan tertangkap.

Serial ini ingin mengetahui seberapa jauh seseorang dapat membentuk ulang dirinya sebelum tidak ada lagi identitas asli yang tersisa.

Mengapa Ripley Layak Ditonton

Ripley tidak cocok bagi penonton yang mencari thriller dengan aksi cepat di setiap episode.

Kekuatannya berada pada atmosfer, komposisi visual, detail kecil, dan ketegangan yang tumbuh perlahan.

Serial ini meminta perhatian.

Tatapan, benda di atas meja, pilihan pakaian, atau arah cahaya dapat memiliki fungsi penting. Adegan yang terlihat tenang sering menyimpan ancaman lebih besar daripada perkelahian terbuka.

Andrew Scott menjadi pusat yang mampu menopang tempo tersebut.

Ia membuat Tom terlihat cerdas tanpa menjadikannya selalu unggul. Ia juga memberi sedikit ruang bagi rasa kesepian dan kebutuhan untuk diterima, tanpa meminta penonton melupakan kekejaman yang dilakukan karakternya.

Visual hitam-putih karya sinematografer Robert Elswit membuat setiap episode terasa seperti rangkaian foto noir yang hidup.

Namun, keindahan itu tidak pernah memberi kenyamanan.

Semakin indah gambar yang terlihat, semakin jelas pula kehampaan di balik kehidupan yang sedang dibangun Tom.

Keindahan yang Tidak Dapat Menutupi Kebusukan

Tom Ripley menginginkan kehidupan yang indah.

Ia menginginkan rumah yang baik, pakaian mahal, karya seni, perjalanan, serta pengakuan dari orang-orang berkelas.

Namun, semua itu dibangun melalui kebohongan.

Inilah ironi terbesar dalam Ripley. Tom berhasil mendekati dunia yang selama ini ia impikan, tetapi ia tidak pernah dapat menikmatinya dengan tenang.

Setiap benda mewah membawa risiko. Setiap hubungan dapat berubah menjadi saksi. Setiap kota baru hanya memberi tempat sementara untuk melarikan diri.

Serial ini memperlihatkan bahwa mencuri kehidupan seseorang tidak sama dengan benar-benar memilikinya.

Tom dapat memakai pakaian orang lain, meniru tanda tangannya, serta tinggal di rumahnya. Namun, ia tetap harus terus bergerak agar identitas palsu tersebut tidak runtuh.

Dengan visual hitam-putih yang menawan, akting yang terkendali, dan ketegangan yang tidak terburu-buru, Ripley menjadi salah satu serial Netflix paling berkarakter.

Ia bukan hanya kisah tentang penipu yang berusaha lolos.

Ia adalah potret seseorang yang begitu membenci hidupnya sendiri hingga bersedia menghancurkan kehidupan orang lain untuk memperoleh identitas baru.

Rangkuman AI RadarLusa

3 Poin Kunci Laporan Ini:

  • Ripley mengadaptasi novel The Talented Mr. Ripley karya Patricia Highsmith ke dalam serial terbatas delapan episode.
  • Visual hitam-putih bukan sekadar gaya, tetapi digunakan untuk memperkuat kebohongan, kesepian, serta dunia moral Tom Ripley.
  • Serial ini memperoleh 13 nominasi dan memenangkan empat Emmy pada penyelenggaraan 2024, termasuk penyutradaraan dan sinematografi.

Rating RadarLusa

Netflix Serial

4.5
Bagikan perspektif ini dengan rekan Anda
Arya Permana
Tentang Penulis

Arya Permana

Reson & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan. Jadi yang pertama berkomentar!

Baca Juga