Salju turun di Buenos Aires pada malam yang seharusnya biasa.
Awalnya, pemandangan itu terlihat ganjil. Kota tersebut bukan tempat yang identik dengan badai salju besar. Namun, keanehan segera berubah menjadi teror ketika orang-orang yang terkena butirannya berjatuhan dan meninggal.
Jalanan mendadak kosong. Kendaraan berhenti di tengah perjalanan. Komunikasi terputus. Orang-orang yang masih hidup hanya dapat bertahan dengan tetap berada di dalam bangunan.
Di tengah kekacauan itu, Juan Salvo dan sejumlah orang di sekitarnya mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Itulah titik awal The Eternaut, serial fiksi ilmiah Netflix asal Argentina yang mengubah bencana apokaliptik menjadi cerita tentang ketakutan, persahabatan, dan kebutuhan manusia untuk saling bergantung.
Serial ini terdiri dari enam episode dan mulai tayang di Netflix pada 30 April 2025. Ceritanya diadaptasi dari novel grafis karya Héctor Germán Oesterheld dan Francisco Solano López. Bruno Stagnaro bertindak sebagai kreator sekaligus sutradara, sementara Ricardo Darín memerankan Juan Salvo.
Salju yang Membunuh dalam Sekejap
Ancaman pertama dalam The Eternaut hadir dalam bentuk yang sederhana: salju.
Butiran putih tersebut tampak indah dari balik jendela, tetapi setiap kontak langsung dapat membunuh manusia dalam waktu singkat.
Pilihan ini langsung menciptakan ketegangan yang efektif.
Para karakter tidak dapat keluar untuk mencari pertolongan tanpa perlindungan. Mereka juga tidak mengetahui berapa lama salju akan turun, siapa yang masih hidup, atau apakah bantuan dari pemerintah akan datang.
Ketidaktahuan menjadi sumber teror terbesar.
Tidak ada pengumuman besar yang menjelaskan situasi. Tidak ada tokoh yang langsung memahami seluruh persoalan. Informasi diperoleh sedikit demi sedikit melalui radio, pengalaman pribadi, dan pertemuan dengan penyintas lain.
Penonton berada dalam posisi yang sama dengan para karakter.
Kita hanya mengetahui apa yang mereka ketahui.
Bencana Hanyalah Awal dari Ancaman
Salju mematikan bukan satu-satunya masalah dalam The Eternaut.
Perlahan, para penyintas menyadari bahwa bencana tersebut mungkin bukan peristiwa alam. Ada kekuatan lain yang bekerja di balik kehancuran Buenos Aires.
Ancaman tersebut berkembang dari sesuatu yang tidak terlihat menjadi serangan yang semakin nyata.
Namun, serial ini tidak terburu-buru menampilkan musuh.
Sebagian besar ketegangan awal justru datang dari kebutuhan paling dasar: mencari makanan, membuat pakaian pelindung, menjaga rumah, dan mengetahui keadaan anggota keluarga yang terpisah.
Pendekatan ini membuat dunia The Eternaut terasa dekat.
Para karakternya bukan tentara elite atau ilmuwan dengan peralatan canggih. Mereka adalah orang-orang biasa yang memakai apa pun yang tersedia untuk bertahan hidup.
Masker, pakaian berlapis, lakban, dan perlengkapan rumah tangga berubah menjadi alat keselamatan.
Kerapuhan tersebut membuat setiap perjalanan keluar rumah terasa berbahaya.
Juan Salvo Bukan Pahlawan Super
Juan Salvo berada di pusat cerita, tetapi ia tidak digambarkan sebagai pahlawan yang selalu mengetahui tindakan terbaik.
Ia takut, ragu, dan beberapa kali membuat keputusan berdasarkan dorongan emosional.
Motivasi terbesarnya adalah menemukan putrinya yang terpisah darinya ketika bencana terjadi.
Pencarian itu memberi cerita arah personal. Namun, The Eternaut tidak membiarkan perjalanan Juan berubah menjadi kisah satu orang yang menyelamatkan semua orang.
Ia membutuhkan bantuan teman, tetangga, dan penyintas lain.
Setiap orang membawa kemampuan berbeda. Ada yang memahami mesin, ada yang lebih tenang dalam tekanan, dan ada yang berani mengambil risiko ketika kelompok mulai kehilangan arah.
Kekuatan mereka bukan berasal dari satu sosok luar biasa.
Kekuatan itu muncul ketika mereka bekerja sebagai kelompok.
Gagasan tentang Pahlawan Kolektif
Salah satu hal yang membedakan The Eternaut dari banyak cerita apokaliptik adalah gagasan mengenai pahlawan kolektif.
Dalam banyak film atau serial, kehancuran dunia biasanya membuka jalan bagi munculnya satu tokoh utama yang lebih kuat, lebih pintar, atau lebih berani daripada orang lain.
The Eternaut mengambil arah berbeda.
Tidak ada orang yang dapat bertahan sendirian.
Setiap keberhasilan lahir dari kerja sama. Seseorang membuat perlengkapan pelindung, orang lain mencari jalur aman, sementara anggota kelompok lainnya menjaga komunikasi atau membantu orang yang terluka.
Serial ini memperlihatkan bahwa solidaritas bukan hanya nilai moral.
Dalam situasi bencana, solidaritas adalah strategi bertahan hidup.
Pesan tersebut terasa kuat karena para karakter tetap memiliki konflik dan kepentingan pribadi. Mereka tidak selalu sepakat. Mereka juga dapat panik, egois, atau kehilangan kepercayaan.
Namun, keadaan memaksa mereka menyadari bahwa pilihan untuk bergerak sendiri hampir selalu berakhir buruk.
Buenos Aires Menjadi Bagian dari Cerita
Buenos Aires bukan sekadar lokasi yang dapat diganti dengan kota lain.
Jalan, bangunan, kendaraan, lingkungan permukiman, dan kebiasaan para karakternya membuat serial ini terasa sangat terikat dengan Argentina.
Kota tersebut ditampilkan sebagai ruang yang dikenal para karakter, kemudian berubah menjadi tempat asing setelah bencana.
Jalan yang biasanya ramai menjadi penuh kendaraan terbengkalai. Rumah berubah menjadi benteng sementara. Stadion, jalan raya, dan gedung-gedung kota memperoleh fungsi baru dalam perjuangan bertahan hidup.
Kedekatan terhadap ruang membuat kehancurannya terasa lebih personal.
Para penyintas tidak hanya kehilangan keamanan. Mereka juga kehilangan kota yang selama ini menjadi bagian dari identitas mereka.
Pendekatan lokal ini penting karena cerita fiksi ilmiah berskala besar sering dianggap harus tampil seperti produksi Hollywood.
The Eternaut membuktikan bahwa ancaman global tetap dapat diceritakan melalui identitas lokal yang kuat.
Ketegangan yang Dibangun Perlahan
The Eternaut bukan serial yang terus-menerus melemparkan ledakan atau pertempuran besar.
Ketegangannya dibangun secara perlahan.
Suara dari luar rumah, bayangan di balik salju, siaran radio yang terputus, atau keputusan untuk membuka pintu dapat terasa sama menegangkannya dengan adegan aksi.
Tempo semacam ini memberi ruang bagi penonton untuk memahami karakter.
Kita melihat bagaimana setiap orang bereaksi terhadap tekanan. Ada yang mencoba tetap rasional. Ada yang menyembunyikan ketakutan. Ada pula yang menggunakan humor untuk menjaga kelompok tidak runtuh.
Hubungan antarkarakter menjadi penting karena bahaya tidak hanya datang dari luar.
Kelelahan, rasa bersalah, kehilangan, dan ketidakpercayaan dapat menghancurkan kelompok dari dalam.
Karena itu, The Eternaut bekerja bukan hanya sebagai serial fiksi ilmiah, tetapi juga drama tentang manusia yang ditempatkan dalam keadaan ekstrem.
Ricardo Darín Menjaga Cerita Tetap Membumi
Ricardo Darín memerankan Juan Salvo dengan pendekatan yang tenang.
Ia tidak tampil sebagai karakter aksi yang selalu percaya diri. Juan terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha mempertahankan kendali ketika seluruh hidupnya runtuh.
Rasa takutnya tidak disembunyikan.
Ia dapat terlihat kelelahan, frustrasi, dan putus asa. Namun, kebutuhan untuk menemukan putrinya terus mendorongnya bergerak.
Penampilan tersebut membantu menjaga serial tetap membumi meskipun ceritanya semakin masuk ke wilayah fiksi ilmiah.
Ketika ancaman menjadi semakin besar, emosi Juan tetap mudah dipahami.
Ia bukan sedang berusaha menjadi penyelamat dunia.
Ia hanya ingin menemukan keluarganya dan menjaga orang-orang di sekitarnya tetap hidup.
Bukan Sekadar Cerita tentang Alien
Secara permukaan, The Eternaut adalah cerita tentang invasi dan kehancuran dunia.
Namun, ancaman dari luar hanya menjadi kerangka untuk membahas sesuatu yang lebih dekat.
Serial ini berbicara tentang bagaimana masyarakat bereaksi ketika sistem yang mereka percaya tiba-tiba tidak berfungsi.
Pemerintah tidak terlihat. Informasi tidak jelas. Bantuan tidak datang tepat waktu. Setiap kelompok harus membangun aturan dan cara bertahan sendiri.
Dalam keadaan seperti itu, manusia dapat memilih untuk saling membantu atau memperebutkan sumber daya yang tersisa.
The Eternaut tidak menggambarkan solidaritas sebagai sesuatu yang mudah.
Bekerja bersama membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan membutuhkan komunikasi. Semua itu menjadi sulit ketika orang ketakutan dan tidak memiliki gambaran jelas mengenai ancaman yang mereka hadapi.
Justru karena itulah setiap tindakan saling membantu terasa penting.
Desain Dunia yang Terasa Nyata
Visual The Eternaut menghindari tampilan apokaliptik yang terlalu bersih atau bergaya.
Kehancuran Buenos Aires terasa berantakan, dingin, dan tidak nyaman.
Pakaian pelindung para karakter terlihat dibuat dari material yang tersedia. Kendaraan dan rumah tidak berubah menjadi perangkat futuristis. Semuanya masih membawa jejak kehidupan normal sebelum bencana.
Detail tersebut memberi kesan bahwa kehancuran datang secara tiba-tiba.
Manusia tidak sempat mempersiapkan diri. Mereka hanya menyesuaikan diri menggunakan barang yang sudah mereka miliki.
Salju yang terus menempel pada jalan dan bangunan juga menciptakan kontras kuat.
Buenos Aires terlihat indah dari kejauhan, tetapi setiap bagian dari keindahan itu membawa kematian.
Mengapa The Eternaut Layak Ditonton
The Eternaut menjadi salah satu serial fiksi ilmiah Netflix yang menonjol karena tidak bergantung sepenuhnya pada skala visual.
Efek dan desain dunianya memang penting, tetapi karakter tetap menjadi pusat cerita.
Serial ini memahami bahwa kehancuran kota hanya akan terasa berarti ketika penonton peduli kepada orang-orang yang hidup di dalamnya.
Enam episodenya memberi cukup ruang untuk membangun dunia tanpa membuat cerita kehilangan arah. Misteri dibuka secara bertahap, sementara ancamannya terus berkembang dari bencana lokal menjadi konflik yang jauh lebih besar.
Hal yang paling kuat adalah keputusan untuk menempatkan kerja sama sebagai inti cerita.
Dalam dunia yang dipenuhi kisah pahlawan tunggal, The Eternaut mengingatkan bahwa manusia jarang bertahan karena satu orang paling kuat.
Mereka bertahan karena seseorang membuka pintu, membagikan informasi, memperbaiki alat, atau memutuskan tidak meninggalkan orang lain.
Fiksi Ilmiah dengan Identitas Amerika Latin
Keberhasilan The Eternaut juga memperlihatkan bahwa fiksi ilmiah tidak harus kehilangan identitas budaya agar dapat diterima secara global.
Serial ini tetap menggunakan bahasa, ruang, dan karakter Argentina.
Ia tidak berusaha menyerupai kota Amerika Serikat atau menghapus ciri lokal demi terlihat internasional.
Justru kekhususan tersebut yang membuatnya menarik.
Penonton dari negara lain mungkin tidak mengenal seluruh sudut Buenos Aires, tetapi dapat memahami rasa kehilangan ketika tempat yang akrab berubah menjadi berbahaya.
Pengalaman lokal menjadi jalan menuju emosi universal.
Ketakutan kehilangan keluarga, kebutuhan untuk menemukan tempat aman, dan keinginan untuk tetap bersama orang lain dapat dipahami di mana pun.
Tidak Ada yang Selamat Sendirian
Di balik salju beracun, makhluk asing, dan kota yang runtuh, The Eternaut membawa satu gagasan sederhana.
Tidak ada yang selamat sendirian.
Kepahlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk satu orang yang berdiri paling depan. Ia dapat muncul melalui kelompok yang memilih untuk tetap bersama meskipun ketakutan terus menguji mereka.
Itulah yang membuat The Eternaut terasa berbeda.
Serial ini tetap memberikan misteri, ketegangan, dan skala fiksi ilmiah yang besar. Namun, pusat emosinya berada pada hal yang sangat manusiawi: kebutuhan untuk percaya kepada orang lain ketika dunia tidak lagi dapat dipercaya.
Bagi penonton yang mencari serial Netflix dengan cerita apokaliptik, atmosfer kuat, dan gagasan yang lebih dalam daripada sekadar bertahan hidup, The Eternaut layak masuk daftar tontonan.
3 Poin Kunci Laporan Ini:
- The Eternaut mengangkat bencana salju beracun yang ternyata menjadi bagian dari ancaman lebih besar terhadap manusia.
- Serial ini menolak pola pahlawan tunggal dan menempatkan kerja sama sebagai inti perjuangan para penyintas.
- Buenos Aires tidak hanya menjadi latar, tetapi bagian penting dari identitas cerita dan atmosfer serial.
Rating RadarLusa
Netflix Serial




