Tuesday, 6 October 2026
Kembali ke Beranda

Drama 1 Menit Mulai Dilirik Hollywood, Apakah Masa Depan Serial Ada di Layar Vertikal?

Format yang lahir dari kebiasaan menonton lewat ponsel kini berkembang menjadi bisnis miliaran dolar. Hollywood mulai mengejar penonton yang terbiasa dengan TikTok, Reels, dan video vertikal.

Drama 1 Menit Mulai Dilirik Hollywood, Apakah Masa Depan Serial Ada di Layar Vertikal?

Serial biasanya meminta waktu 30 menit sampai satu jam untuk menyelesaikan satu episode. Microdrama mencoba pendekatan yang hampir berlawanan: cerita dibagi menjadi episode sekitar 45 detik hingga dua menit dan dibuat khusus untuk ditonton secara vertikal melalui smartphone.

Format ini awalnya berkembang pesat di China, tetapi sekarang mulai mendapatkan tempat di Amerika Serikat. Reuters melaporkan bisnis microdrama di AS diperkirakan menghasilkan sekitar US$1,5 miliar pada 2026 dan berpotensi mendekati US$2 miliar tahun berikutnya.

Hollywood pun mulai memperhatikan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah orang mau menonton drama satu menit. Jutaan pengguna sudah melakukannya. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah kebiasaan tersebut akan mengubah cara serial dibuat dalam jangka panjang.

Apa Itu Microdrama atau Drama Vertikal?

Microdrama adalah serial dengan episode sangat pendek yang umumnya dirancang untuk layar smartphone dalam posisi vertikal.

Satu serial bisa memiliki puluhan episode, tetapi setiap bagian hanya berlangsung sekitar satu atau dua menit. Struktur ceritanya dibuat sangat cepat karena tidak ada cukup waktu untuk pembukaan panjang seperti dalam serial televisi tradisional.

Penonton biasanya langsung dilempar ke konflik.

Hubungan bermasalah, rahasia keluarga, pengkhianatan, pernikahan kontrak, perebutan kekayaan, atau ancaman tertentu dapat muncul hanya dalam beberapa detik pertama.

Episode kemudian berakhir dengan cliffhanger yang mendorong penonton membuka bagian berikutnya.

Secara prinsip, teknik tersebut sebenarnya bukan hal baru. Opera sabun dan serial televisi sudah menggunakan cliffhanger selama puluhan tahun.

Yang berubah adalah skalanya.

Satu jam televisi kini dipadatkan menjadi rangkaian potongan yang dirancang mengikuti ritme scrolling di smartphone.

Kenapa Drama Satu Menit Bisa Berkembang Begitu Cepat?

Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari perubahan kebiasaan menonton.

Smartphone sudah menjadi salah satu layar utama kehidupan sehari-hari. Pengguna membuka video ketika berada di kendaraan, antre, makan siang, atau sekadar memiliki waktu kosong beberapa menit.

TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kemudian membiasakan audiens mengonsumsi cerita melalui layar vertikal.

Akibatnya, bahasa visual yang dahulu terasa tidak lazim sekarang menjadi sesuatu yang sangat familiar.

Perubahan serupa sudah terlihat di musik. Potongan pendek sebuah lagu bisa menjadi pintu masuk menuju lagu penuh karena TikTok mempunyai kemampuan discovery yang sangat besar. RadarLusa sebelumnya membahas pola tersebut dalam artikel Mengapa Lagu K-pop Begitu Mudah Viral di TikTok dan FYP?.

Microdrama membawa logika serupa ke cerita fiksi.

Alih-alih menggunakan video pendek untuk mempromosikan serial, video pendek itu sendiri menjadi serialnya.

Hollywood Mulai Mengejar Format Vertikal

Pertumbuhan microdrama mulai sulit diabaikan oleh industri entertainment tradisional.

Reuters mencatat sejumlah perusahaan besar mulai bereksperimen dengan format vertikal. NBCUniversal telah membawa video vertikal ke Peacock, sementara Fox membuat kesepakatan dengan Holywater Tech, perusahaan di balik aplikasi My Drama, untuk memproduksi lebih dari 200 judul video vertikal.

Ini menarik karena selama bertahun-tahun media sosial dipandang terutama sebagai tempat promosi film dan televisi.

Trailer dipotong untuk TikTok. Adegan serial diunggah ke Reels. Aktor melakukan challenge untuk mempromosikan film.

Sekarang hubungan itu mulai terbalik.

Hollywood justru mencoba membuat entertainment dengan bahasa yang lahir dari platform sosial.

Biaya Produksinya Jauh Lebih Murah

Ada alasan bisnis yang membuat microdrama semakin menarik.

Membuat satu episode serial televisi dapat menghabiskan jutaan dolar. Produksi microdrama jauh lebih murah karena lokasi, durasi, jumlah pengambilan gambar, serta kebutuhan produksinya lebih sederhana.

Reuters melaporkan satu serial microdrama yang terdiri dari sekitar 50 hingga 75 episode bisa diproduksi dengan biaya sekitar US$100 ribu sampai US$300 ribu pada beberapa platform.

Bandingkan dengan sitcom setengah jam yang dapat menghabiskan US$2 juta hingga US$4 juta untuk satu episode.

Perbedaannya sangat besar.

Bagi perusahaan entertainment, model tersebut memungkinkan mereka mencoba banyak cerita sekaligus. Jika satu judul gagal, risikonya tidak sebesar kegagalan serial streaming berbiaya puluhan juta dolar.

Ceritanya Sengaja Dibuat Sangat Cepat

Microdrama tidak hanya memotong serial biasa menjadi bagian lebih kecil.

Cara penulisannya juga berbeda.

Karakter harus diperkenalkan dengan cepat. Konflik harus segera terlihat. Setiap menit membutuhkan perkembangan yang cukup kuat agar pengguna tidak melakukan swipe.

Akibatnya, banyak microdrama menggunakan cerita yang mudah dipahami dalam beberapa detik.

Tokoh kaya yang menyembunyikan identitas, romansa terlarang, keluarga berkonflik, perselingkuhan, balas dendam, atau perubahan status sosial menjadi formula yang sering digunakan karena penonton tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk memahami taruhannya.

Pendekatan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat cocok dengan kondisi ketika perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan.

Apakah Attention Span Kita Memang Semakin Pendek?

Kemunculan microdrama sering memunculkan asumsi bahwa manusia sudah tidak mampu lagi menonton cerita panjang.

Kesimpulan itu terlalu sederhana.

Film berdurasi tiga jam masih bisa sukses. Serial panjang masih mempunyai fandom besar. Podcast berdurasi dua jam juga bisa mendapatkan jutaan pendengar.

Yang berubah bukan hanya kemampuan manusia untuk memperhatikan, tetapi pilihan konteks menonton.

Orang bisa menonton film tiga jam di bioskop pada akhir pekan sekaligus menikmati drama satu menit ketika sedang menunggu kendaraan.

Dua perilaku tersebut tidak harus saling menghapus.

Justru industri entertainment semakin bergerak menuju banyak bentuk durasi sekaligus.

TikTok dan Reels Sekarang Berfungsi seperti Trailer

Ada hubungan menarik antara microdrama dan media sosial.

Platform seperti TikTok, Reels, Facebook, serta YouTube Shorts menjadi tempat pengguna menemukan potongan drama sebelum diarahkan ke aplikasi tertentu.

Dalam model lama, trailer digunakan untuk menjual tiket bioskop.

Dalam model microdrama, satu episode pendek dapat sekaligus menjadi bagian cerita dan alat promosi.

Ketika pengguna tertarik pada karakter atau konflik tertentu, mereka dapat melanjutkan menonton puluhan episode berikutnya.

Artinya, batas antara marketing dan produk semakin kabur.

Konten yang menarik perhatian adalah konten yang sama yang sedang dijual.

Model Bisnisnya Juga Berbeda dari Netflix

Banyak aplikasi microdrama menawarkan beberapa episode awal secara gratis.

Setelah pengguna sudah mengikuti cerita, akses berikutnya dapat menggunakan subscription atau sistem pembayaran lain.

Pendekatan ini memanfaatkan satu hal yang sangat tua dalam storytelling: rasa penasaran.

Ketika episode berhenti tepat sebelum jawaban muncul, pengguna mempunyai alasan kuat untuk membuka bagian berikutnya.

Karena setiap episode sangat singkat, siklus tersebut dapat terjadi puluhan kali dalam satu cerita.

Hasilnya adalah pengalaman yang lebih dekat dengan scrolling dibanding memilih satu episode Netflix berdurasi 50 menit.

Apakah Ini Ancaman bagi Netflix dan Televisi?

Belum tentu.

Microdrama dan serial streaming memenuhi kebutuhan yang berbeda.

Netflix, HBO, Disney+, dan platform lain masih mempunyai keunggulan dalam cerita kompleks, produksi besar, karakter yang membutuhkan waktu berkembang, serta pengalaman menonton bersama di televisi.

Microdrama justru kuat ketika pengguna hanya memiliki beberapa menit.

Namun perusahaan streaming tetap perlu memperhatikan perubahan ini karena waktu manusia terbatas.

Satu jam yang digunakan untuk scrolling microdrama adalah satu jam yang tidak digunakan untuk menonton serial tradisional.

Persaingan entertainment sekarang tidak lagi hanya Netflix melawan Disney+.

Film bersaing dengan game, YouTube, TikTok, podcast, dan semua bentuk konten lain untuk mendapatkan waktu yang sama.

Apakah Indonesia Bisa Menjadi Pasar Besar Drama Vertikal?

Secara karakter pasar, Indonesia memiliki kondisi yang menarik.

Penggunaan smartphone dan media sosial sangat tinggi, sementara drama, sinetron, romance, serta cerita berbasis konflik keluarga sudah lama memiliki audiens besar.

Format microdrama pada dasarnya membawa beberapa karakter sinetron ke struktur konsumsi yang lebih sesuai dengan smartphone.

Potensinya bukan berarti penonton Indonesia akan meninggalkan sinetron atau streaming.

Namun sangat mungkin muncul kategori baru di antara keduanya.

Produksinya juga relatif lebih murah, sehingga kreator dan studio lokal tidak selalu membutuhkan anggaran sebesar serial OTT untuk bereksperimen.

Tantangannya: Apakah Cerita Masih Bisa Punya Kedalaman?

Kecepatan adalah kekuatan microdrama sekaligus kelemahannya.

Ketika setiap menit harus memiliki hook, ruang untuk membangun karakter secara perlahan menjadi lebih kecil. Cerita berisiko terlalu bergantung pada kejutan, konflik ekstrem, atau cliffhanger.

Format tersebut juga bisa menciptakan formula yang cepat terasa berulang.

Jika semua episode harus berakhir dengan pengkhianatan, rahasia, atau kejutan baru, penonton akhirnya dapat memprediksi polanya.

Karena itu, masa depan microdrama mungkin bergantung pada kemampuan kreator menemukan bahasa storytelling yang benar-benar cocok untuk durasi pendek, bukan hanya memampatkan formula sinetron.

Jadi, Apakah Drama Vertikal Masa Depan Serial?

Jawabannya kemungkinan bukan "menggantikan", melainkan menambah bentuk baru.

Bioskop tidak mati ketika televisi muncul. Televisi juga tidak hilang ketika streaming datang. YouTube tidak menggantikan seluruh industri entertainment ketika video online berkembang.

Setiap teknologi baru justru menciptakan kebiasaan menonton baru.

Microdrama memperlihatkan bahwa cerita fiksi sekarang tidak harus dimulai dari pertanyaan "berapa lama satu episode?"

Pertanyaannya bisa berubah menjadi "di layar apa cerita ini akan ditonton?"

Untuk film, jawabannya mungkin layar bioskop. Untuk serial premium, televisi atau laptop masih ideal.

Namun bagi generasi yang sudah terbiasa menggenggam layar secara vertikal sepanjang hari, sangat mungkin sebagian cerita masa depan memang akan dibuat untuk dinikmati hanya dengan satu tangan.

Rangkuman AI RadarLusa

3 Poin Kunci Laporan Ini:

  • Microdrama mengubah episode serial menjadi potongan 45 detik hingga sekitar 2 menit, dengan cerita yang sengaja dibuat cepat dan penuh cliffhanger.
  • Hollywood mulai ikut masuk, termasuk perusahaan besar yang bereksperimen dengan video vertikal ketika audiens semakin banyak menghabiskan waktu di ponsel.
  • Format ini kemungkinan tidak menggantikan film atau serial panjang, tetapi dapat menjadi kategori entertainment baru di antara media sosial dan streaming tradisional.
Bagikan perspektif ini dengan rekan Anda
Rian Nusantara
Tentang Penulis

Rian Nusantara

Penulis & pengamat budaya massa berbasis di Jakarta. Berfokus pada perpotongan media digital, musik indie, dan sosiologi perkotaan.

Reson & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan. Jadi yang pertama berkomentar!

Baca Juga