Tuesday, 6 October 2026
Kembali ke Beranda

Mengapa Lagu K-pop Begitu Mudah Viral di TikTok dan FYP?

K-pop tidak mendapat jalur khusus dari algoritma. Namun koreografi, potongan lagu yang mudah dikenali, hingga budaya fandom membuat musik Korea sangat cocok dengan cara konten menyebar di platform video pendek.

Mengapa Lagu K-pop Begitu Mudah Viral di TikTok dan FYP?

Bus hijau dengan visual Red Velvet di jalanan Tokyo. Foto: Hiu Yan Chelsia Choi/Unsplash.

K-pop dan TikTok seperti menemukan pasangan yang tepat di era video pendek.

Sebuah lagu baru bisa muncul lewat video dance berdurasi belasan detik. Beberapa jam kemudian potongan yang sama digunakan untuk edit, meme, video transisi, fancam, sampai konten pengguna yang bahkan tidak mengikuti grup tersebut.

Lalu muncul kesan bahwa algoritma TikTok memang menyukai K-pop.

Padahal mekanismenya tidak sesederhana itu.

TikTok menjelaskan bahwa rekomendasi dalam For You Feed dibangun dari berbagai sinyal, termasuk interaksi pengguna serta informasi yang terdapat dalam video seperti caption, sound, dan hashtag. Dengan kata lain, tidak ada penjelasan resmi yang menunjukkan K-pop mendapat perlakuan khusus hanya karena genrenya.

Yang membuat K-pop menarik justru bagaimana musik, visual, koreografi, dan fandomnya menghasilkan begitu banyak konten yang cocok dengan sistem tersebut.

Satu Lagu Bisa Menghasilkan Banyak Jenis Konten

Dalam industri musik konvensional, sebuah lagu biasanya dipasarkan melalui video musik, radio, konser, atau penampilan televisi.

K-pop bekerja dengan ekosistem yang jauh lebih luas.

Satu comeback bisa menghasilkan video musik, choreography video, dance practice, performance video, fancam individual, behind the scenes, challenge bersama artis lain, hingga potongan vertikal untuk media sosial.

Akibatnya, satu lagu tidak hanya memiliki satu pintu untuk ditemukan.

Potongan chorus bisa menjadi dance challenge. Bagian lirik tertentu bisa berubah menjadi meme. Ekspresi seorang member dapat menjadi reaction video. Sementara sebuah fancam dapat memperkenalkan lagu kepada pengguna yang awalnya hanya tertarik pada visual atau penampilannya.

Semakin banyak format yang lahir dari satu lagu, semakin banyak pula kemungkinan pengguna berinteraksi dengannya.

Koreografi Membuat Pendengar Ikut Menjadi Kreator

Dance challenge menjadi salah satu senjata paling terlihat.

Koreografi K-pop memang tidak selalu dibuat khusus untuk TikTok. Namun banyak lagu memiliki gerakan atau bagian chorus yang mudah dikenali ketika dipotong menjadi video pendek.

Hasilnya, penonton tidak berhenti sebagai penonton.

Mereka bisa meniru gerakan tersebut, membuat versi sendiri, menggabungkannya dengan tren lain, atau menggunakan sound yang sama untuk konteks yang sama sekali berbeda.

Efeknya terlihat jelas dalam data TikTok.

Pada laporan Year on TikTok 2024, tujuh dari sepuluh artis teratas global berasal dari K-pop. Lagu “XO (Only If You Say Yes)” milik ENHYPEN juga disebut menghasilkan lebih dari 354 ribu kreasi TikTok sepanjang periode tersebut.

Setahun kemudian pola ini masih terlihat.

TikTok menempatkan KATSEYE sebagai Global Artist of the Year 2025. Tren dance untuk “Gnarly” berkembang hingga melibatkan nama-nama seperti LE SSERAFIM, TOMORROW X TOGETHER, ENHYPEN, dan bahkan Camila Cabello. TikTok mencatat tren tersebut menghasilkan sekitar 2,4 juta kreasi dan 13,5 miliar views.

RadarLusa sebelumnya juga membahas bagaimana KATSEYE memperluas dunia WILD HEARTS lewat film dan EP WILD. Kasus KATSEYE menunjukkan bagaimana musik pop modern semakin jarang berdiri sendirian. Musik menjadi bagian dari rangkaian visual, cerita, fandom, dan konten digital yang saling memperkuat.

FYP Tidak Mengenal Batas Negara Seperti Radio

Ada faktor lain yang sangat penting: distribusi.

Di masa lalu, lagu Korea yang ingin menembus negara lain membutuhkan jalur promosi lokal yang jauh lebih besar. Radio, televisi, media, dan distributor menjadi penjaga gerbang penting.

Platform berbasis rekomendasi mengubah pola tersebut.

Pengguna di Jakarta tidak harus mencari acara musik Korea untuk menemukan sebuah lagu baru dari Seoul. Sebuah video dapat masuk ke FYP karena perilaku pengguna menunjukkan ketertarikan terhadap konten serupa.

Inilah salah satu alasan mengapa musik dapat bergerak lintas negara dengan jauh lebih cepat.

Pertumbuhan K-pop di platform streaming memperlihatkan skala lintas wilayah tersebut. Spotify mengatakan playlist K-Pop ON! telah mengumpulkan lebih dari 5,3 juta saves secara global, sementara jumlah stream tahunan yang berasal dari playlist tersebut meningkat lebih dari 5.600 persen dibandingkan 2015.

K-pop dengan demikian tidak hanya bergantung pada ekspor musik secara tradisional. Ia tumbuh di dalam jaringan platform global.

Fandom Menjadi Mesin Distribusi

Namun algoritma saja tidak cukup menjelaskan fenomena K-pop.

Ada manusia di belakang angka-angka itu.

Fandom K-pop memiliki budaya partisipasi yang sangat kuat. Penggemar membuat edit, fancam, tutorial dance, terjemahan, meme, reaction hingga kompilasi penampilan.

Satu materi resmi kemudian dapat melahirkan ratusan bentuk konten tidak resmi.

Aktivitas tersebut menciptakan lebih banyak kesempatan bagi lagu untuk muncul di depan pengguna lain.

Tetapi ada perbedaan antara populer di dalam fandom dan menjadi tren internet secara luas.

Sebuah lagu baru benar-benar menembus FYP ketika sound, gerakan atau idenya mulai digunakan oleh orang yang bahkan tidak mengenal grup tersebut.

Di titik itulah lagu berubah dari produk fandom menjadi bagian dari kultur internet.

TikTok Juga Menjadi Pintu Menuju Streaming

Hubungan video pendek dan streaming juga semakin dekat.

TikTok mengatakan fitur Add to Music App telah digunakan untuk menyimpan lebih dari tiga miliar lagu ke berbagai layanan streaming pada 2025. Fitur itu memungkinkan pengguna membawa lagu yang ditemukan di TikTok menuju platform seperti Spotify, Apple Music, dan Amazon Music.

Artinya, video viral tidak lagi berhenti pada views.

Seorang pengguna bisa melihat sebuah challenge, menyukai lagunya, menyimpannya, kemudian mendengarkan versi penuh di platform streaming.

Alurnya menjadi:

FYP → sound → rasa penasaran → streaming → fandom atau pendengar baru.

Bagi industri musik, perubahan ini sangat penting.

Promosi musik bukan lagi sekadar membuat orang tahu sebuah lagu telah dirilis. Tantangannya adalah menciptakan cukup banyak titik masuk agar pengguna menemukan lagu tersebut di tengah arus konten.

Tetapi Tidak Semua Lagu K-pop Otomatis Viral

Popularitas K-pop di TikTok juga tidak berarti semua comeback akan otomatis menembus algoritma.

Ribuan lagu tetap dirilis setiap tahun tanpa pernah menjadi tren besar.

Produksi mahal, koreografi kuat, dan fandom besar dapat membantu menciptakan momentum awal. Tetapi setelah itu, pengguna menentukan apakah sebuah tren terus bergerak atau berhenti di lingkaran penggemarnya sendiri.

Inilah alasan menyebut TikTok sekadar “memihak K-pop” menjadi kurang tepat.

K-pop justru berkembang karena sistem industrinya sangat siap menghadapi kultur partisipatif internet.

Musiknya dapat didengar.

Koreografinya dapat ditiru.

Visualnya dapat diedit.

Member-nya dapat menjadi meme.

Dan fandomnya terus menghasilkan versi baru dari materi yang sama.

K-pop Memahami Musik sebagai Konten

Keunggulan terbesar K-pop di era FYP mungkin bukan algoritma, melainkan pemahaman bahwa sebuah lagu sekarang hidup di banyak tempat sekaligus.

Lagu bukan lagi produk akhir.

Ia bisa menjadi soundtrack video, challenge, meme, fancam, potongan performance atau pintu masuk menuju komunitas penggemar.

TikTok kemudian mempercepat distribusinya.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan “mengapa algoritma menyukai K-pop?”

Melainkan:

mengapa K-pop begitu siap ketika algoritma menjadi salah satu cara utama generasi baru menemukan musik?

Jawabannya ada pada kombinasi musik, visual, partisipasi, dan fandom yang sejak awal membuat satu lagu dapat terus berubah bentuk setelah dirilis.

Rangkuman AI RadarLusa

3 Poin Kunci Laporan Ini:

  • TikTok tidak secara khusus memprioritaskan K-pop, tetapi interaksi pengguna dan penggunaan sound menjadi bagian dari sistem rekomendasinya.
  • Koreografi, hook singkat, visual kuat, serta banyaknya konten turunan membuat satu lagu K-pop bisa hidup dalam berbagai format video.
  • Fandom menjadi mesin distribusi tambahan, tetapi lagu tetap membutuhkan partisipasi pengguna di luar basis penggemar untuk berubah menjadi tren besar.
Bagikan perspektif ini dengan rekan Anda
Siti Nurhaliza
Tentang Penulis

Siti Nurhaliza

Reson & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan. Jadi yang pertama berkomentar!

Baca Juga