Tuesday, 6 October 2026
Kembali ke Beranda

Kenapa Gen Z Suka Close Friends dan Private Account?

Gen Z tidak berhenti membagikan kehidupan mereka di internet. Sebagian justru semakin selektif menentukan siapa yang boleh melihatnya.

Kenapa Gen Z Suka Close Friends dan Private Account?

Ilustrasi kebiasaan Gen Z menggunakan fitur Close Friends dan akun privat untuk berbagi konten dengan lingkaran yang lebih terbatas. Gambar: ilustrasi RadarLusa.

Dulu, salah satu ukuran kesuksesan di media sosial terdengar sederhana: semakin banyak followers dan semakin banyak orang melihat unggahan kita, semakin baik.

Namun cara menggunakan internet tidak selalu bergerak ke arah audiens yang semakin besar.

Di Instagram, misalnya, ada Close Friends, private account dan second account. Di luar itu, percakapan personal juga banyak berlangsung dalam group chat dan ruang digital yang anggotanya dipilih sendiri.

Bagi sebagian Gen Z, pertanyaannya bukan lagi hanya “apa yang ingin aku posting?”

Ada pertanyaan lain yang sama pentingnya:

“Siapa yang boleh melihat postingan ini?”

Kenapa Gen Z Memilih Close Friends?

Close Friends memungkinkan pengguna Instagram membagikan Stories hanya kepada orang-orang yang mereka pilih.

Kelihatannya sederhana, tetapi fitur ini mengubah satu hal penting dalam cara berkomunikasi di media sosial: audiens.

Sebuah penelitian terhadap mahasiswa Gen Z di Indonesia yang diterbitkan pada 2026 menemukan bahwa pemilihan anggota Close Friends dilakukan berdasarkan faktor seperti kedekatan dan kepercayaan.

Konten yang dibagikan juga cenderung lebih personal dibandingkan konten yang ditampilkan kepada audiens umum.

Dengan kata lain, satu akun bisa mempunyai beberapa lapisan identitas.

Ada hal yang nyaman diperlihatkan kepada semua followers.

Ada juga hal yang hanya ingin dibagikan kepada beberapa orang.

Akun Utama dan Akun Kedua Bisa Punya Fungsi Berbeda

Fenomena serupa terlihat melalui second account.

Akun utama sering menjadi wajah seseorang di ruang publik digital.

Isinya bisa lebih terkurasi: foto perjalanan, pencapaian, pekerjaan, outfit atau momen yang dianggap cukup layak untuk dilihat banyak orang.

Akun kedua bisa memiliki karakter yang sangat berbeda.

Foto blur, meme internal, curhatan, screenshot percakapan atau kejadian sehari-hari yang mungkin terasa terlalu personal atau terlalu random untuk akun utama bisa mendapat tempat di sana.

Penelitian mengenai penggunaan second account Instagram oleh Gen Z juga menemukan bahwa akun kedua dapat berfungsi sebagai ruang dengan batas audiens yang lebih terkontrol.

Artinya, second account bukan selalu tentang menyembunyikan identitas.

Kadang justru sebaliknya.

Pengguna merasa dapat memperlihatkan sisi dirinya yang lebih santai karena mengetahui siapa yang melihatnya.

Kenapa Tidak Posting Semuanya di Akun Utama?

Masalah media sosial modern adalah context collapse.

Bayangkan satu akun Instagram diikuti teman sekolah, teman kuliah, rekan kerja, keluarga, mantan teman dekat dan orang yang hanya pernah bertemu sekali.

Semua orang tersebut berada dalam satu daftar followers.

Padahal cara seseorang berbicara kepada sahabat tentu tidak selalu sama dengan cara berbicara kepada rekan kerja.

Ketika semua kelompok tersebut berada dalam satu ruang digital, pengguna mulai mengatur siapa yang mendapatkan akses ke bagian tertentu dari kehidupannya.

Close Friends dan second account menjadi salah satu jawabannya.

Internet Privat Bukan Berarti Berhenti Bermedia Sosial

Perubahan ini tidak berarti Gen Z meninggalkan media sosial.

Yang berubah adalah cara mereka membagi audiens.

Seseorang masih bisa memiliki akun publik.

Namun postingan yang lebih personal hanya masuk Close Friends.

Percakapan yang lebih intim pindah ke group chat.

Konten random masuk second account.

Hasilnya adalah internet yang terasa seperti memiliki beberapa ruangan.

Ada ruang depan untuk semua orang.

Ada ruang tengah untuk teman.

Dan ada ruang yang hanya boleh dimasuki orang-orang tertentu.

Kenapa Close Friends Bisa Terasa Lebih Jujur?

Ketika jumlah audiens mengecil, tekanan untuk melakukan presentasi diri juga dapat berubah.

Pengguna tidak harus selalu memikirkan apakah sebuah postingan cukup bagus untuk seluruh followers.

Sejumlah penelitian mengenai penggunaan Close Friends oleh Gen Z menemukan bahwa fitur tersebut digunakan untuk curhat, mengekspresikan emosi, membagikan humor dan melakukan self-disclosure kepada kelompok yang dianggap lebih dipercaya.

Ada istilah yang menarik dalam penelitian mengenai fenomena ini: hyperhonest.

Pengguna bisa menjadi lebih terbuka karena merasa berada dalam lingkungan digital yang lebih aman.

Hal yang mungkin tidak pernah muncul di feed utama justru muncul berkali-kali di Close Friends.

Followers Banyak Tidak Selalu Berarti Hubungan Dekat

Media sosial pernah membuat angka menjadi sangat penting.

Jumlah followers terlihat di profil.

Jumlah likes terlihat di postingan.

Jumlah views menjadi ukuran performa.

Namun angka tersebut tidak selalu menggambarkan kedekatan.

Seseorang bisa mempunyai ribuan followers tetapi hanya mempercayai beberapa puluh orang untuk melihat cerita personalnya.

Di sinilah Close Friends menawarkan sesuatu yang berbeda.

Nilainya bukan terletak pada berapa banyak orang yang melihat, melainkan siapa yang melihat.

Private Account Memberikan Kontrol Lebih Besar

Private account menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda.

Alih-alih membatasi satu postingan, pengguna membatasi akses terhadap keseluruhan akun.

Orang lain harus mendapatkan persetujuan sebelum dapat mengikuti dan melihat konten.

Kontrol tersebut menjadi penting ketika seseorang tidak ingin setiap bagian kehidupannya tersedia secara terbuka bagi orang asing.

Namun private account tidak otomatis membuat seseorang anonim atau sepenuhnya terlindungi.

Begitu seseorang mendapatkan akses, informasi tetap dapat berpindah keluar dari lingkaran tersebut.

Close Friends Juga Tidak Benar-benar Privat

Lingkaran hijau di Instagram dapat menciptakan rasa aman.

Tetapi ada satu hal yang mudah terlupakan:

orang di dalam Close Friends tetap bisa membocorkan konten.

Screenshot dapat dibuat.

Video dapat direkam.

Cerita personal dapat diceritakan kembali kepada orang lain.

Penelitian mengenai manajemen privasi Gen Z di Close Friends juga menemukan adanya risiko ketika informasi bergerak keluar dari batas audiens yang awalnya diharapkan.

Artinya, Close Friends sebenarnya lebih tepat disebut semi-privat.

Platform memberikan kontrol terhadap siapa yang dapat melihat konten pertama kali, tetapi tidak memberikan kontrol penuh terhadap apa yang dilakukan orang tersebut setelah melihatnya.

Kenapa Second Account Bisa Ikut Menjadi Ramai?

Ada paradoks lain.

Second account awalnya mungkin dibuat untuk lima atau sepuluh teman dekat.

Lama-lama jumlah followers bertambah.

Teman kampus masuk.

Teman kerja masuk.

Kenalan baru masuk.

Akhirnya akun yang tadinya terasa privat mulai terasa seperti akun utama.

Sebagian pengguna kemudian kembali membuat lapisan baru: Close Friends di dalam second account.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalannya bukan semata-mata fitur.

Yang dicari adalah batas sosial.

Ketika batas tersebut terasa terlalu luas, pengguna membuat batas baru.

Media Sosial Berubah dari Panggung Menjadi Banyak Ruangan

Pada era awal media sosial, platform sering dibayangkan seperti sebuah panggung.

Seseorang membuat postingan.

Semua followers melihatnya.

Namun perilaku pengguna sekarang lebih rumit.

Satu orang dapat mempunyai identitas publik di feed, kehidupan sehari-hari di Stories, curhatan di Close Friends, sisi random di second account dan percakapan paling personal di group chat.

Identitas digital tidak lagi selalu ditampilkan kepada satu audiens besar.

Ia dibagi berdasarkan konteks.

Apakah Gen Z Jadi Lebih Peduli Privasi?

Tidak sesederhana itu.

Seseorang bisa sangat berhati-hati memilih anggota Close Friends tetapi tetap membagikan informasi pribadi dalam jumlah besar kepada orang-orang tersebut.

Penelitian mengenai Gen Z dan Close Friends bahkan menemukan paradoks antara kebutuhan mengekspresikan diri dengan risiko oversharing.

Karena itu, kecenderungan menuju ruang yang lebih kecil tidak otomatis berarti kesadaran privasi selalu meningkat.

Yang lebih terlihat adalah keinginan untuk mendapatkan kontrol atas audiens.

Gen Z tetap ingin berbagi.

Mereka hanya tidak selalu ingin berbagi hal yang sama kepada semua orang.

Internet Mungkin Tidak Menjadi Lebih Sepi, Hanya Lebih Terbagi

Media sosial publik tidak akan hilang.

Creator tetap membutuhkan audiens.

Musisi tetap membutuhkan fandom.

Orang tetap ingin membagikan perjalanan, pencapaian dan hal-hal yang mereka sukai.

Namun di balik feed publik tersebut berkembang lapisan internet lain yang jauh lebih kecil.

Close Friends.

Second account.

Private account.

Group chat.

Ruang-ruang tersebut menunjukkan bahwa perkembangan media sosial tidak selalu berarti membuat dunia semakin terbuka.

Setelah bertahun-tahun internet mendorong kita untuk mengumpulkan sebanyak mungkin followers, sebagian pengguna muda justru menemukan nilai dari hal sebaliknya:

mengetahui dengan pasti siapa yang sedang mendengarkan.

Sumber

  • Jurnal Komunikasi dan Media — Komunikasi Oversharing dan Manajemen Privasi Gen Z pada Fitur Close Friends Instagram.
  • Universitas Muhammadiyah Malang — Strategi Komunikasi Generasi Z dalam Menggunakan Fitur Close Friends Instagram untuk Menjaga Ekspresi Diri dan Privasi (2026).
  • Prologia, Universitas Tarumanagara — Media Komunikasi Pilihan Generasi Z sebagai Ruang Aman dan Media Ekspresi (2026).
  • Journal of Social Political Sciences, Universitas Nasional — Negotiating Privacy and Intimacy: Generation Z's Self-Disclosure Through Instagram Second Accounts and Its Implications for Social Interaction (2026).
Rangkuman AI RadarLusa

3 Poin Kunci Laporan Ini:

  • Gen Z tidak selalu menginginkan audiens sebesar mungkin; sebagian menggunakan Close Friends dan akun kedua untuk memilih audiens berdasarkan kedekatan dan kepercayaan.
  • Ruang semi-privat dapat membuat pengguna merasa lebih nyaman membagikan cerita personal, humor, emosi dan sisi diri yang tidak mereka tampilkan di akun utama.
  • “Privat” di media sosial tetap bukan privasi absolut. Konten masih dapat discreenshot, direkam atau disebarkan oleh orang yang memiliki akses
Bagikan perspektif ini dengan rekan Anda
Siti Nurhaliza
Tentang Penulis

Siti Nurhaliza

Reson & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan. Jadi yang pertama berkomentar!

Baca Juga